Dasar - Dasar Kepemimpinan

5:48:00 PM di 5:48:00 PM

Kepemimpinan diartikan sebagai kemampuan seseorang sehingga ia memperoleh rasa hormat (respect), pengakuan (recognition), kepercayaan (trust), ketaatan (obedience), dan kesetiaan (loyalty) untuk memimpin kelompoknya dalam kehidupan bersama menuju cita-cita.

Dalam Islam karena kepemimpinan erat kaitannya dengan pencapaian cita-cita maka kepemimpinan itu harus ada dalam tangan seorang pemimpin yang beriman.

Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 28 :

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).”

Untuk dapat menghasilkan pemimpin yang dapat memikul amanah yang dipercayakan kepadanya, menurut Imam Al-Mawardi dalam kitabnya, Al-Ahkam As-Sulthaniyyah, diperlukan seseorang yang kokoh iman dan takwanya, mulia akhlaknya, mampu bersikap adil dan jujur, berilmu dan cerdas (fathonah), berkompeten, konsekuen memikul tanggung jawab (amanah), sehat jasmani dan rohani, memiliki keberanian menegakkan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar. Syarat terakhir yaitu keberanian karena tanpa keberanian, segala sifat-sifat terdahulu tidak akan dapat dijalankan secara efektif.

Tentang hadits yang terkait dengan kepemimpinan, Rasulullah SAW pernah bersabda : “Orang yang bakal paling dikasihi oleh Allah dan yang paling dekat di sisi-Nya kelak pada hari berhisab ialah pemimpin yang adil, dan orang yang bakal paling dibenci Allah pada hari berhisab dan bakal menerima siksa azab yang sangat pedih adalah para pemimpin yang dzalim.” (HR Tirmidzi).

Di lain hadits, Rasulullah SAW memperingatkan bahwa “Barangsiapa yang pernah memimpin lebih dari sepuluh orang kelak akan dibawa pada hari berhisab dengan kaki tangannya terbelenggu dan hanya keadilan yang pernah diamalkannya sajalah yang dapat melonggarkan rantai belenggu tadi, sedang kedzaliman yang pernah dibuatnya kelak akan membawanya kepada kehancuran.” (HR Darimi).

Read More..

Malaikat Itu Adalah Ibu

5:39:00 PM di 5:39:00 PM

Suatu
ketika… Seorang bayi siap untuk dilahirkan ke dunia. Menjelang
diturunkan, dia bertanya kepada Tuhan,

"Pada
malaikat di sini mengatakan bahwa besok Engkau akan mengirimku ke
dunia. Tetapi bagaimana cara saya hidup di sana? saya begitu kecil
dan lemah." kata si bayi.

Tuhan menjawab,

"Aku
telah memilih satu melaikat untukmu, ia akan menjaga dan
mengasihimu.”

"Tapi di surga, apa
yang saya lakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa,

ini cukup bagi saya untuk
bahagia." kata si bayi.

Tuhanpun menjawab,

"Malaikatmu
akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari dan akan merasakan
kehangatan cintanya dan jadi lebih bahagia."

Si bayipun betanya
kembali,

"Dan
apa yang saya lakukan saat saya ingin berbicara dengan - Mu?"

Sekali lagi Tuan
menjawab,

"Malaikatmu akan
mengajarkan bagaimana kamu berdoa."

Si
bayipun masih belum puas, ia bertanya lagi,

"Saya
mendengar di bumi banyak orang jahat, siapa yang akan melindungi
saya?"

Dengan
penuh kesabaran Tuhan pun menjawab,

"Malaikatmu
akan melindungimu dengan taruhan jiwanya sekalipun."

Si
bayipun tetap belum puas dan melanjutkan pertanyaannya,

"Tapi saya akan
bersedih karena tidak melihat Engkau lagi."

Dan Tuhanpun menjawab,

"Malaikatmu
akan menceritakanmu tentang Aku, dan akan mengajarkan bagaimana agar
kamu bisa kembali kepada-Ku. Walaupun sesungguhnya Aku selalu berada
disimu."

Saat
itu surga begitu tanangnya, sehingga suara dari bumi dapat terdengar
dan sang anak dengan suara lirih bertanya, "Tuhan…jika saya
harus pergi sekarang, bisakah Engkau memberitahu siapa nama malaikat
dirumahku nanti?"

Tuhanpun menjawab…

"Kamu dapat
memanggil malaikatmu… IBU…"

Kenanglah
Ibu yang menyayangimu. Untuk Ibu yang selalu meneteskan air mata
ketika kau pergi… Ingatlah engkau ketika, ibumu rela tidur tanpa
selimut demi milihatmu tidur nyeyak dengan dua selimut membalut
tubuhmu.

Ingatlah ketika jemari
ibu mengusap lembut kepalamu ?

….dan
ingatlah engkau ketika air mata menetes dari mata ibumu ketika ia
melihatmu terbaring sakit?

Sesekali jenguklah ibumu
yang selalu menantikan kepulanganmu di rumah

tempat kau dilahirkan.

Kembalilah memohon maaf
pada ibumu yang selalu rindu akan senyumanmu.

Jangan
biarkan engkau kehilangan saat-saat yang akan kau rindukan di masa
datang. Ketika ibu telah tiada…

Tak ada lagi yang berdiri
di depan pintu menyambut kita,

Tak ada lagi senyman
indah… tanda bahagia.

Yang ada hanyalah kamar
yang kosong tiada penghuninya.

Yang
ada hanya baju yang digantung di lemari kamarnya.

Tak
ada lagi dan tak akan ada lagi yang meneteskan air mata yang
mendo’akanmu disetiap hembusan nafasnya.

Kembalilah segera…
peluklah ibu yang selalu menyayangimu…

Ciumlah kaku ibu yang
selalu merindukanmu dan berikanlah yang terbaik diakhir hayatnya

Kenanglah semua cinta dan
kasih sayangnya…

SELAMAT HARI IBU 22 DESEMBER 2008

Read More..

Renungan Tentang Ibu

5:37:00 PM di 5:37:00 PM

Oleh : Sang Penulis

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan
waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekiat rumah, ibu
berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan
bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan
yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu,
ibu duduk disamping gw dan memakan sisa daging ikan yang masih
menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku
makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu
menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan
cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan
ikan” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan
kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api
untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang
untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun
dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan
dengan gigihnya melanjutkan pekerjaanny menempel kotak korek api. Aku
berkata :”Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus
kerja.” Ibu tersenyum dan berkata :”Cepatlah tidur nak, aku tidak
capek” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku
pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari,
ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama
beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah
selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah
disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental
tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental.
Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk
ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :”Minumlah nak, aku tidak
haus!” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap
sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu,
dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita
pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat
kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati
yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar
maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat
kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk
menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan
nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta”
———-KEBOHONGA N IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan
bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak
mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit
sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang
bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu
memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang
tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya
punya duit” ———-KEBOHONGA N IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian
memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika
berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja
di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud
membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik
hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku “Aku
tidak terbiasa” ———-KEBOHONGA N IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker
lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di
seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk
ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya
setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku
dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya
terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas
betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat
lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air
mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti
ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “Jangan menangis anakku,Aku
tidak kesakitan” ———-KEBOHONGA N IBU YANG KEDELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta
menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa
tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : ” Terima kasih ibu ! “

Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon
ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita
untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita
yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk
meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah
dan ibu yang ada di rumah.

Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan
pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas
apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di
samping kita.

Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita?
Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita
sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita
renungkan kembali lagi..

Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu
kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di
kemudian hari.

Read More..

Kepemimpinan Dalam Islam

5:35:00 PM di 5:35:00 PM

Kepemimpinan itu wajib ada, baik secara syar’i ataupun secara ‘aqli. Adapun secara syar’i misalnya tersirat dari firman Allah tentang doa orang-orang yang selamat :)) واجعلنا للمتقين إماما )) “Dan jadikanlah kami sebagai imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertaqwa” [QS Al-Furqan : 74]. Demikian pula firman Allah أطيعوا الله و أطيعوا الرسول و أولي الأمر منكم )) )) “Taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada Rasul dan para ulul amri diantara kalian” [QS An-Nisaa’ : 59]. Rasulullah saw bersabda dalam sebuah hadits yang sangat terkenal : “Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan setiap dari kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya”.

Terdapat pula sebuah hadits yang menyatakan wajibnya menunjuk seorang pemimpin perjalanan diantara tiga orang yang melakukan suatu perjalanan. Adapun secara ‘aqli, suatu tatanan tanpa kepemimpinan pasti akan rusak dan porak poranda.

Kriteria Seorang Pemimpin

Karena seorang pemimpin merupakan khalifah (pengganti) Allah di muka bumi, maka dia harus bisa berfungsi sebagai kepanjangan tangan-Nya. Allah merupakan Rabb semesta alam, yang berarti dzat yang men-tarbiyah seluruh alam. Tarbiyah berarti menumbuhkembangkan menuju kepada kondisi yang lebih baik sekaligus memelihara yang sudah baik. Karena Allah men-tarbiyah seluruh alam, maka seorang pemimpin harus bisa menjadi wasilah bagi tarbiyah Allah tersebut terhadap segenap yang ada di bumi. Jadi, seorang pemimpin harus bisa menjadi murabbiy bagi kehidupan di bumi.

Karena tarbiyah adalah pemeliharaan dan peningkatan, maka murabbiy (yang men-tarbiyah) harus benar-benar memahami hakikat dari segala sesuatu yang menjadi obyek tarbiyah (mutarabbiy, yakni alam). Pemahaman terhadap hakikat alam ini tidak lain adalah ilmu dan hikmah yang berasal dari Allah. Pemahaman terhadap hakikat alam sebetulnya merupakan pemahaman (ma’rifat) terhadap Allah, karena Allah tidak bisa dipahami melalui dzat-Nya dan hanya bisa dipahami melalui ayat-ayat-Nya. Kesimpulannya, seorang pemimpin haruslah seseorang yang benar-benar mengenal Allah, yang pengenalan itu akan tercapai apabila dia memahami dengan baik ayat-ayat Allah yang terucap (Al-Qur’an) dan ayat-ayat-Nya yang tercipta (alam).

Bekal pemahaman (ilmu dan hikmah) bagi seorang pemimpin merupakan bekal paling esensial yang mesti ada. Bekal ini bersifat soft, yang karenanya membutuhkan hardware agar bisa berdaya. Ibn Taimiyyah menyebut hardware ini sebagai al-quwwat, yang bentuknya bisa beragam sesuai dengan kebutuhan. Dari sini bisa disimpulkan bahwa seorang pemimpin harus memiliki dua kriteria: al-‘ilm dan al-quwwat.

Yang dimaksud dengan al-‘ilm (ilmu) tidaklah hanya terbatas pada al-tsaqafah (wawasan). Wawasan hanyalah sarana menuju ilmu. Ilmu pada dasarnya adalah rasa takut kepada Allah. Karena itulah Allah berfirman,”Yang takut kepada Allah diantara para hamba-Nya hanyalah para ulama” (QS. Faathir: 28). Ibnu Mas’ud pun mengatakan,”Bukanlah ilmu itu dengan banyaknya riwayat, akan tetapi ilmu adalah rasa takut kepada Allah”. Namun bagaimana rasa takut itu bisa muncul ? Tentu saja rasa itu muncul sesudah mengenal-Nya, mengenal keperkasaan-Nya, mengenal kepedihan siksa-Nya. Jadi ilmu itu tidak lain adalah ma’rifat kepada Allah. Dengan mengenal Allah, akan muncul integritas pribadi (al-‘adalat wa al-amanat) pada diri seseorang, yang biasa pula diistilahkan sebagai taqwa. Dari sini, dua kriteria pemimpin diatas bisa pula dibahasakan sebagai al-‘adalat wa al-amanat (integritas pribadi) dan al-quwwat.

Selanjutnya, marilah kita tengok bagaimanakah kriteria para penguasa yang digambarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Dalam hal ini kita akan mengamati sosok Raja Thalut (QS. Al-Baqarah: 247), Nabi Yusuf (QS. Yusuf: 22), Nabi Dawud dan Sulaiman (Al-Anbiya’: 79, QS Al-Naml: 15).

Raja Thalut:

“Sesungguhnya Allah telah memilihnya (Thalut) atas kalian dan telah mengkaruniakan kepadanya kelebihan ilmu dan fisik (basthat fi al-‘ilm wa al-jism)” (QS. Al-Baqarah: 247).

Nabi Yusuf:

“Dan ketika dia (Yusuf) telah dewasa, Kami memberikan kepadanya hukm dan ‘ilm” (QS. Yusuf: 22).

Nabi Dawud dan Sulaiman:

“Maka Kami telah memberikan pemahaman tentang hukum (yang lebih tepat) kepada Sulaiman. Dan kepada keduanya (Dawud dan Sulaiman) telah Kami berikan hukm dan ‘ilm” (QS. Al-Anbiya’: 79).

“Dan sungguh Kami telah memberikan ‘ilm kepada Dawud dan Sulaiman” (QS. Al-Naml: 15).

Thalut merupakan seorang raja yang shalih. Allah telah memberikan kepadanya kelebihan ilmu dan fisik. Kelebihan ilmu disini merupakan kriteria pertama (al-‘ilm), sementara kelebihan fisik merupakan kriteria kedua (al-quwwat). Al-quwwat disini berwujud kekuatan fisik karena wujud itulah yang paling dibutuhkan saat itu, karena latar yang ada adalah latar perang.

Yusuf, Dawud, dan Sulaiman merupakan para penguasa yang juga nabi. Masing-masing dari mereka telah dianugerahi hukm dan ‘ilm. Dari sini kita memahami bahwa bekal mereka ialah kedua hal tersebut. Apakah hukm dan ‘ilm itu ?

Hukm berarti jelas dalam melihat yang samar-samar dan bisa melihat segala sesuatu sampai kepada hakikatnya, sehingga bisa memutuskan untuk meletakkan segala sesuatu pada tempatnya (porsinya). Atas dasar ini, secara sederhana hukm biasa diartikan sebagai pemutusan perkara (pengadilan, al-qadha’). Adanya hukm pada diri Dawud, Sulaiman, dan Yusuf merupakan kriteria al-quwwat, yang berarti bahwa mereka memiliki kepiawaian dalam memutuskan perkara (perselisihan) secara cemerlang. Al-quwwat pada diri mereka berwujud dalam bentuk ini karena pada saat itu aspek inilah yang sangat dibutuhkan.

Disamping al-hukm sebagai kriteria kedua (al-quwwat), ketiga orang tersebut juga memiliki bekal al-‘ilm sebagai kriteria pertama (al-‘ilm). Jadi, lengkaplah sudah kriteria kepemimpinan pada diri mereka.

Pada dasarnya, kriteria-kriteria penguasa yang dikemukakan oleh para ulama bermuara pada dua kriteria asasi diatas. Meskipun demikian, sebagian ulama terkadang menambahkan beberapa kriteria (yang sepintas lalu berbeda atau jauh dari dua kriteria asasi diatas), dengan argumentasi mereka masing-masing. Namun, jika kita berusaha memahami hakikat dari kriteria-kriteria tambahan tersebut, niscaya kita dapati bahwa semua itu pun tetap bermuara pada dua kriteria asasi diatas. Wallahu a’lamu bish shawaab.

Read More..

Antara Taqlid dan Tsiqah

5:30:00 PM di 5:30:00 PM

Istilah Taqlid (kadang ditambah menjadi Taqlid buta) sering “ditempelkan” kepada orang-orang NU yang tinggal di Kampung, lantaran “ketaatan” mereka kepada sosok Kyai-nya, tanpa mau “mempersoalkan” sang Kyai tersebut benar atau salah.

Istilah Tsiqah atau Kepercayaan, salah satunya dapat dijumpai dalam salah satu rukun Bai’at Imam Syahid Hasan Al-Banna. Dijelaskan bahwa Tsiqah adalah

: “rasa puasnya/relanya seorang jundi (prajurit/anggota Jamaah) terhadap Qiyadah (pimpinannya) dalam hal kemampuan dan keikhlasannya, dengan kepuasan mendalam yang dapat menumbuhkan rasa cinta, penghargaan, penghormatan, dan ketaatan”.

Dalam praktiknya, Tsiqah menjadi salah satu parameter tingkat “kesolidan” sebuah Jamaah. Lebih spesifik lagi, dalam Gerakan Harokah, ke-Tsiqah-an “jundi” kepada Qiyadah menjadi faktor penting dalam perjalanan dakwah/gerakannya. Tapi, tak jarang dijumpai dalam “perjalanan” Dakwah, Tsiqah seakan “dipaksakan” melalui “jalur” Top-Down, guna “memuluskan” agenda-agenda Dakwah. Seorang al-akh atau seorang jundi bisa jadi akan dicap tidak Tsiqah atau bahkan dianggap tidak taat, ketika ia tidak langsung “rela/puas” dengan beragam “instruksi” dari atas. “Pokoknya tsiqah sajalah akhi…”, kalimat tersebuta kadang ikut “menghiasi” agenda-agenda dakwah.

Ah…., peristiwa di atas bisa jadi hanyalah “hiasan” yang kadang ikut menyertai aktivis Harokah. Bukan Manhaj yang “mengajarkan” seperti itu, tapi bisa jadi itu hanyalah sekedar “prilaku” yang muncul dari aktivis Harokah.

Bagaimana sebenarnya Manhaj Haroki “mengajarkan” rasa Tsiqah kepada setiap aktivisnya?.

Dalam 10 rukun bai’at Imam Syahid Hasan Al-Banna: Al-Fahmu, Al-Ikhlas, Al-Amal, Al-Jihad, At-Tadhiyyah (Pengorbanan), At-Tho’ah, Ats-Tsabat (Teguh), At-Tajarrud (Totalitas), Al-Ukhuwah dan Ats-Tsiqah.

Tsiqah ditempatkan dalam urutan ke-10 atau terakhir. Artinya, selain ia diposisikan sebagai “rukun” yang harus “disifati” oleh setiap ak-akh (kader Dakwah/aktivis Harokah), Tsiqah juga sebenarnya adalah sebuah “produk”. Ya, “produk” dari ke-9 rukun Ba’at di atasnya. Jika ke-9 rukun Bai’at diatasnya telah menjadi “karakter” dan “membumi” di setiap aktivis Harokah, maka secara “otomatis” Tsiqah akan “muncul” dalam diri al-akh (kader Dakwah)

Al-Fahmu ditempatkan sebagai rukun yang pertama, sedangkan Ats-Tsiqah merupakan rukun yang terakhir. Imam Syahid mengatakan, “Yang dimaksud dengan Al-Fahmu adalah hendaknya anda yakin bahwa fikrah kita adalah Fikrah islamiyah yang murni, dan anda memahami Islam sebagaimana kami memahaminya dalam batas-batas Ushul ‘Isyrin ((20 prinsip).

Manhaj ini telah “mengajarkan” kita bahwa Kefahaman harus mendahului yang lainnya. Dengan “kafamahan”, Fiqrah akan dengan mudah terbentuk, memunculkan “mainstream gerak dan langkah”. Kalau Ilmu harus mendahului Amal, maka dalam “dunia pergerakan” atau Dakwah, Fikroh “harus” mendahului Harokah. Imam Al Ghazali mengatakan, “Ilmu akan mendorong perilaku, perilaku akan mendorong amal”. Sehingga Imam Al Ghazali menempatkan “Al-Ilmu” dalam Bab pertama kitab “Ihya Ulumuddin”-nya. Faham merupakan tujuan Ilmu. Al Qur’an dan As Sunnah memerintahkan kita untuk “Tafaqquh Fiddien” (mendalami agama).

Sehingga sangat penting “Top-Urgent” bahwa setiap kader harus menumbuhkan Al-Fahmu sebelum menjadi At-Tho’ah apalagi Ats-Tsiqah. Ats-Tsiqah tanpa Al-Fahmu adalah taklid buta, ibarat ketaklidan “orang-orang kampung NU” terhadap Kyai-nya dan ketaklidan orang-orang Muhammadiyah.

Di lapangan, kadang kita saksikan berapa banyak “kader” yang berguguran dan bepergian? Salah satunya, lantaran ada “ketidak-puasan” sang Jundi kepada Qiyadah. Jauh dari prinsip Tsiqah yang diharapkan, yakni: “rasa puasnya/relanya seorang jundi (prajurit/anggota Jamaah) terhadap Qiyadah (pimpinannya)”.

Idealnya, Manhaj ini telah mengajarkan hendaknya “Memahamkan” Jundi adalah “proyek” pertama sebelum “meminta” sang Jundi agar Tsiqah. Sehingga, agenda Halaqoh atau Liqo’at sebagai tandzim terdepan dalam basis pengkaderan dan “pembentukan” kader yang “Faham” semestinya dikelola lebih serius dan ditata lebih “rapi” ketimbang misalnya sosialisasi kebijakan, musyarokah atau sejenisnya. Tragisnya, ketika “Dakwah” ini mulai “bersentuhan” dengan Politik, agenda-agenda untuk menumbuhkan “Al-Fahmu” pada setiap kader (misalnya Liqo’at Tarbiyah) kadang sering “terganggu”. Akibatnya, improvisasi “Al-Fahmu” pada setiap kader kurang berjalan.

(Wallahu’aklam Bissowab)

Read More..

YANG BERJATUHAN DI JALAN DAKWAH

5:19:00 PM di 5:19:00 PM

Da'wah merupakan perjalanan panjang yang penuh dengan duri dan rintangan. Kemenangan da'wah akan diperoleh apabila para anggota-anggotanya komitmen dan teguh dalam menapaki jalan da'wah.

Sudah menjadi sunnatullah bahwa akan ada anggota da'wah yang berjatuhan, baik bentuknya penyelewengan, penyimpangan, pengunduran diri dan sebagainya, sebelum meraih kemenangan. Fenomena ini tidak bisa dihindari, sehingga ada sebagian orang memandang hal ini sebagai suatu fenomena yang wajar / sehat guna memperbaharui sel-sel intinya, dan membebaskan da'wah dari segala hal yang memberatkan dan menghambat pergerakan.

FENOMENA YANG BERJATUHAN DI ZAMAN NABI

Pada zaman Rasulullah saw, sudah terjadi fenomena pembelotan para anggota jama'ah untuk melepaskan tanggung jawab ataupun sekedar bermalas-malasan dalam berda'wah. Beberapa peristiwa berjatuhan di jalan da'wah yang sempat terjadi adalah:

a. Kelompok mutakhollifin (orang-orang yang tidak berangkat) pada perang Uhud, diantaranya: Ka'ab bin Malik, Muroroh Ibnu `Ar-Rabi' dan Hilal bin Umayyah. Namun mereka bertiga ini kemudian diterima taubatnya oleh Allah swt, dan penerimaan taubat mereka diabadikan di dalam Al Qur'an dalam surat al Bara-ah, dan karena pertaubatan besar inilah surat ini juga dinamakan surat at-Taubah.

b. Pembocoran rahasia negara oleh Hathib bin Abi Balta'ah. Namun mengingat kebaikan masa lalunya, yaitu keikut sertaannya dalam perang Badar yang merupakan yaumul furqan, Rasulullah saw mengampuni dan tidak menghukumnya.

c. Haditsul Ifki (berita kebohongan besar) terhadap Ummul Mukminin `Aisyah ra. Diantara orang-orang yang terlibat dalam penyebaran berita ini, ada tiga sahabat nabi, mereka telah mendapatkan hukuman had, yaitu masing-masing di dera 80 kali, dan setelah itu merekapun bertaubat. Mereka itu adalah: Hassan bin Tsabit, Hamnah binti Jahsy dan Misthah bin Utsatsah.

d. Pengkhianatan Abu Lubabah yang membocorkan rahasia hukum yang akan diterapkan kepada orang-orang Yahudi Bani Quraizhah. Dia telah menyatakan taubat kepada Allah swt dan Rasul-Nya, dan Allah swt-pun telah menerima taubatnya.

e. Peristiwa berdirinya masjid dhirar.


SEBAB-SEBAB BERJATUHAN

a. Sebab-sebab yang berhubungan dengan pergerakan

1. Lemahnya segi pendidikan.
2. Tidak menempatkan personal dalam posisi yang tepat.
3. Distribusi penugasan yang tidak merata pada setiap individu.
4. Tidak adanya monitoring personal secara baik.
5. Tidak menyelesaikan berbagai urusan dengan cepat.
6. Konflik intern. Konflik intern ini disebabkan oleh:
- Lemahnya kepemimpinan.
- Adanya tangan tersembunyi dan kekuatan luar yang sengaja menyebar fitnah.
- Perbedaan watak dan kecenderungan individu.
- Persaingan dalam memperebutkan kedudukan.
- Tidak adanya komitmen dan penonjolan tingkah laku individu.
- Kevakuman aktifitas dan produktifitas.

Dalam sejarah, konflik yang pernah terjadi antar ummat Islam adalah pada peristiwa konflik golongan Aus dan Khazraj. Dalangnya (provokatornya) adalah orang-orang Yahudi, yaitu Syammas bin Qais. Atas prakarsa Rasulullah saw maka golongan Aus dan Khazraj bersatu kembali. Hal tersebut terbukti dengan turunnya QS Ali Imran: 100 – 105.

7. Kepemimpinan yang tidak ahli dan qualified. Sebabnya antara lain:
- Kelemahan dalam kemampuan idiologi.
- Kelemahan dalam kemampuan organisatoris.

Oleh karena itu, seorang pemimpin yang diangkat haruslah memiliki syarat:
- Mengenal da'wah.
- Mengenal diri sendiri.
- Pengayoman yang kontinyu.
- Teladan yang baik.
- Pandangan yang tajam.
- Kemauan yang kuat.
- Kharisma kepribadian yang fitri.
- Optimisme.

b. Sebab-sebab yang berhubungan dengan individu

Yaitu berjatuhannya anggota disebabkan oleh atau bersumber pada pribadi anggota. Yang termasuk dalam hal ini adalah:

1. Watak yang tidak disiplin, sehingga menyebabkan dia tidak bisa menyesuaikan diri dengan organisasi / jama'ah.

2. Takut terancamnya diri dan periuk nasinya (QS 4 : 120, QS 3 : 175).
Tersebut dalam hadits:
"Syurga dipagari dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, dan neraka dikelilingi oleh segala hal yang menyenangkan". (HR Ahmad, Muslim dan At-Tirmidzi)

3. Sikap ekstrim dan berlebih-lebihan.
Tersebut dalam hadits:
"Hendaklah kamu menjauhi sikap ekstrim dalam agama. Sesungguhnya orang yang sebelum kamu binasa karena ekstrim dalam beragama". (HR Ahmad dan
An-Nasai).

4. Sikap terlalu memudah-mudahkan dan meremehkan.
Tersebut dalam hadits:
"Sesungguhnya kamu melakukan pekerjaan-pekerjaan dosa menurut pandangan mata kamu lebih halus dari rambut. Di masa Rasulullah saw, kami menggolongkan perbuatan itu termasuk al muubiqoot (hal-hal yang menghancurkan) ". (HR Bukhari).

5. Tertipu kondisi gemar menampilkan diri (QS 28 : 83).

6. Kecemburuan terhadap orang lain / kedengkian. (QS 5 : 27 – 30).

7. Bencana senjata / penggunaan kekuatan.

Syarat-syarat penggunaan kekuatan:
- Habis segala usaha dengan jalan lain.
- Urusannya dipegang oleh pimpinan dan jama'ah Islam dan bukan oleh individu.
- Tidak menjurus pada pengrusakan dan bencana.
- Tidak boleh keluar dari ketentuan syara'.
- Penggunaan kekuatan sesuai skala prioritas.
- Penggunaan senjata harus mempunyai persiapan yang matang dan cermat.
- Hati-hati akan pancingan berbagai reaksi.
- Tidak boleh menjerumuskan ummat Islam bila posisi kekuatan tidak seimbang.

c. Tekanan Luar
1. Tekanan dari suatu cobaan (QS 3 : 175).
2. Tekanan keluarga dan kerabat (QS 9 : 24).
3. Tekanan Lingkungan.
4. Tekanan gerakan agitasi (penyebaran kritik dan keragu-raguan) .
5. Tekanan figuritas (QS 7 : 12).



(Kitab YANG BERJATUHAN DI JALAN DA'WAH, Fathi Yakan)

Read More..

Renungan Sejenak ( untukmu angkatan 2005 - 2006 )

6:28:00 PM di 6:28:00 PM

oleh : Yuniar K
mari saudaraku ... Sebentar saja .. kita tatap kereta dakwah kita.
amati tiap - tiap gerbong dakwah kita ... sudahkah terisi ...
sudahkah calon penumpang yang menunggu di stasiun dakwah memasuki gerbong dakwah kita ... coba antum hitung, berapa jumlah penumpang yang sudah duduk dengan nyaman di tiap sudut kursi dakwah yang kita sediakan. apakah antum mengamati bahwa diantara mereka ada yang masih kepanasan akibat AC ukhuwah yang rusak, atau merasa tidak nyaman akibat pelayanan kita yang kurang memuaskan. coba amati lagi.. berapa jumlah penumpang yang menikmati sejuknya gerbong dakwah ini. sudah puaskah kita. atau kita dengan santainya menatap banyaak sekali penumpang yang turun di tiap pemberhentian stasiun. Lalu ... kita hanya bisa menatap atau kita diam saja pura - pura tak tahu bahkan sibuk menikmati kursi yang sudah terlalu nyaman bagi kita, hingga kita pun terlelap.
coba antum amati lagi saudaraku ..
masinis yang mengemudikan kereta dakwah kita. mereka adalah mas - mas dan mbak - mbak kita. lihatlah mereka harus turun di stasiun pemberhentian ini. tidak!!! mereka tidak lari dari gerbong dakwah ini, kalau antum tahu akhi, mereka harus mengemudikan bahkan menjadi penumpang di kereta dakwah selanjutnya. mereka harus mencari penumpang yang lain yang ternyata di luar sana masih banyak calon penumpang yang belum menikmati gerbong dakwah kita.
lalu ... coba dengarkan teriakkan salah satu penumpang yang duduk diantara ruas kursi di gerbong dakwah ini, " Akhi!!! ukhti !!! lihatlah kereta kita tidak lagi punya masinis!!!! padahal perjalanan kita masih panjang!!!! adakah diantara kita yang siap jadi masinis!!!!"
ahhh... semuanya diam saja saudaraku ... tak ada yang menyahut bahkan masih ada di salah satu kursi di sudut gerbong kita yang tetap terlelap menikmati empuknya kursi di gerbong dakwah ini. bahkan terdengar keributan di kursi bagian belakang. " antum saja akh!!! antum kan sudah mampu ... ", " nggak antum aja ane harus membetulkan tempat duduk ane ... ". ya saling menunjuk dan melempar tanggung jawab.
Jangan Sampai saudaraku ....
jangan sampai hal ini terjadi pada gerbong dakwah kita. kitalah masinis itu. kitalah yang akan mengemudikan kereta dakwah ini.
sudahlah ... tak perlu lagi saling menunjuk dan melempar tanggung jawab. coba tengok kejendela... ternyata masih banyak saudara - saudara kita yang belum sempat menikmati sejuknya gerbong dakwah kita dan empuknya kursi kita.
sadarlah saudaraku... kitalah masinis itu.

Read More..