Prototype Korupsi
Semua menyadari semua benci dengan yang namanya korupsi. Jutaan orang lapar karenanya. jutaan orang jadi miskin, jutaan orang tidur gelisah. Tapi di lain sisi ratusan orang tertawa tebelalak, ratusan orang sibuk mengamankan harta, ratusan orang berilmu tak berbudi. Ada yang bilang ini tidak akan hilang. Wong sudah jadi budaya. Walau setahu saya budaya Indonesia itu gotong royong, tenggang rasa, dan sifat-sifat luhur lainnya. Saya kehabisan akal untuk menolak pernyataan itu.
Saat semua mati ada yang harus tetap hidup. Harapan, itulah yang harus tetap hidup. Satu yang aku yakini. Tidak mungkin ada yang salah dalam agamaku. Islam ini agama Allah, menyempurnakan yang terdahulu. Lalu mengapa di negaraku yang mayoritas penduduk muslim tertinggal. Padahal Islam adalah Agama pamungkas.
Disekelilingku orang sibuk memperhatikan diri sendiri. Maklum inikan sedang ujian. Tapi memperhatikan diri sendiri disini bukan diam tenang megerjakan soal masing-masing tapi berfikir bagaimana kertas jawaban yang ada didepannya terisi penuh, tak perduli di dalam otaknya ada jawaban atau tidak yang jelas di kertas harus ada jawaban entah dari mana. Yang lain coba melindungi satu sama lain. Kenapa? Karena mereka melakukan hal yang sama. Terlintas kata bodoh dari temanku,”Pung, kalau ujian biar bodoh asal sombong!!” duduk di depan, kerjakan, diam, dan kumpulkan sebisanya. Seakan artinya memikirkan diri sendiri, tapi aku menangkap bahwa itulah yang memperhatikan orang lain bahkan masa depan Negara ini.
Ya, nilaiku jelek, karena aku tak belajar. Aku yang selama ini berteriak anti sekularisme ternyata masih sekuler. Aku anggap kuliah tak lebih penting dari menuntut ilmu Agama dan menyuarakan kebenaran di jalan. Padahal kuliah ya ibadah juga, ya jihad juga. Tapi saat ku kerjakan soal ujian semester ini ku coba menerapkan Agamaku. Ku coba untuk memikirkan orang lain juga diriku sendiri kalau aku mencontek. Ku coba membiasakan diri dapat nilai halal dari pekerjaanku, isi dari kertas jawabanku harus jelas asalnya. Kalau nilaiku jelek bukan Agamaku yang salah tapi justru karena aku kurang ikhtiar dan kurang menerapkan agamaku. Aku tak mau menatap diriku beragama di Mushala tapi melepaskan agamaku di kelas.
Rasa tak bersalah saat melakukan dosa amat mengerikan. Kalau sekarang merasa tak bersalah korupsi jawaban, bukan mustahil besok merasa tak berdosa mengkorup uang. Kalau aku melaksanakan kewajiban untuk belajar tidak maksimal amat munafik aku mengharap hasil maksimal. Allah menegurku dengan IP yang cukup pahit. Semoga Allah mencintaiku dengan tidak memberikan IP yang memang aku tidak mengerti menerapkannya.
Ujian ku...
7:11:00 AM di 7:11:00 AMPosted in hijrah otak | 2 komentar »
Menjadi Manusia Merdeka
7:05:00 AM di 7:05:00 AMMenjadi Manusia Merdeka
Ikan-ikan itu sepertinya mengajariku. Seakan bergerak bebas melewati karang-karang. bergerak lincah kesana kemari tak ada yang dapat menghalangi. Matanya selalu terbuka lebar. Tak terlihat sedikitpun duka di raut wajahnya, bahkan kehadiranku yang memperhatikannya sejak tadi tak juga menganggu keceriannya. Adikku memukulkan tangannya kekaca aquarium. Aku tersenyum, mungkin Ia ingin ikut dalam kecerian ikan-ikan di Aquarium, serentak ikan-ikan ketakutan dan kocar-kacir atas hentakkan adikku itu. Tak tahan aku gemes menggendong adikku mengangkat agar Ia bisa memasukkan tangannya di akuarium,. Benar saja dikobok-kobok itu aquarium dan tambah panik pula itu ikan-ikan atas kehadiran tangan adikku setelah satu ikan tertangkap, seakan mulutnya yang mangap-mangap memintaku untuk menolongnya. Serentak aku tersentuh karena tahu benar wajah kecerian si ikan berganti dengan harapan dan kesedihan. Kucoba menggoyangkan tangan adikku agar terlepas si ikan. Akhirnya dengan bantuanku dan pemberontakan ikan dengan gerakannya. Ia kembali ke air, namun sedikit diam dan tidak se ceria dulu.
Banyak sekali yang kurindukan kebersamaan bersama keluarga di rumah seperti diatas. Semua terasa apabila sudah tidak terasa. Semua lebih berarti apabila diresapi seperti apa yang dikatakan ” THO PHAT”. Sekarang yok kita resapi Ikan diatas yang seakan-akan tak sadar bahwa ada kehidupan di luar air aquarium, Ikan yang selalu ceria dan berbuat semaunya walau aku mengamatinya, Ikan yang selalu memandang dari sudut pandangnya saja. Tak heran dia kocar-kacir ketika ada hentakan kaca aquarium yang mengguncang dunianya, walau tak lama ia kembali lupa akan kejadiannya yang mengguncangnya cukup hebat, dan baru tersadar ketika di angkat dari akuarium dari dunianya. Baru tahu dia kalau ada daratan. Ya jangan disalahkan ikannya karena ia tidak memiliki akal dan tak datang kabar padanya kalau ada kehidupan di luar air, di luar dunianya. Kalaupun dikasih kabar ikan ga bakal mempersiapkannya dengan membuat helm air yang menutupi kepala seperti di kartun, namanya juga tidak punya otak wajar kalau tidak berfikir, wajar kalau berbuat semaunya wong ga ada yang perlu dipertanggungjawabkan, wajar semua wajar karena ikan ga punya otak (baca: akal). Menjadi tidak wajar ketika terjadi kepada mahluk mulia yang memiliki otak untuk berfikir.
Manusia terkadang lupa bahwa ada kehidupan setelah kematian, ada yang memperhatikan ia di luar sana dan menunggu untuk meminta pertanggung jawaban, ada yang mengguncang aquarium manusia ini agar sadar bahwa ada kekuatan di luar alamnya. Akankah kita tersadar akan semua ketika kita diangkat dari aquarium ini dari dunia ini, kalau ikan diberi kesempatan untuk masuk kembali ke aquarium kita tidak kawan.
Padahal telah datang berita kepada kita, telah datang peringatan guncangan dunia. Dan kita memiliki akal yang membuat kita lebih mulia sehingga malaikatpun diperintahkan sujud, namun jika tak menggunakannya maka kebodohan akan membawanya lebih hina dari binatang yang hidup untuk makan, memuaskan nafsu birahi, dan kesenangan duniawi.
Mari menjadi manusia merdeka seutuhnya yang mempunyai pemikiran yang bebas dari kungkungan aquarium dunia yang fana, dunia yang mengartikan merdeka padahal kebebasan berbuat jahil, kebodohan karena tak tahu ada dunia setelah mati.
Kawan kita sudah diberi petunjuk bagaimana cara hidup di dunia agar amal yang di dunia tidak sia-sia. Sekali lagi cara hidup di dunia, bukan cara hidup di akhirat. Karena di akherat bukan bagaimana kita hidup yang kita perlukan jawaban dari amal bukan bagaimana cara beramal. Aturan itu bernama Islam. Maka ketika agama ini dipisahkan dari objeknya yaitu dunia maka akan kehilangan fungsinya. Dan itulah yang dilakukan pemikiran sekuler barat. Agama harus dipisahkan oleh dunia. Islam diasingkan dari objeknya, kita tetap diperbolehkan solat dan mengaji tetapi harus memisahkan nilai-nilai dalam solat dan mengaji dalam kehidupan social. Karena yang ada di lingkungan social bukan semuanya Islam. Begitu doktrinnya, si TOLOL barat berfikir Allah katrok ga’ tahu kalau manusia itu plural. Jadi hukum-hukum Allah ga layak di dunia.
Umat islam ditakuti oleh keislaman, Setan pemikiran barat tahu sebanyak apapun umat islam tak akan berarti kalau tanpa nilai. Karena yang mempunyai kekuatan bukan umat islam tapi nilai-nilai Islam. Maka yang mereka lakukan mereduksi nilai islam, mengklaim menjadi nilainya, menerapkannya, dan membiarkan kita terasing akan islam.
Mari memberontak, Mari merdeka, Mari berjuang, Karena apa..?
KARENA KITA PEMUDA ISLAM.....................................
Allahu Akbar.............!!!
Kalau kalian masih phobia dengan pekikkan takbir
Hati-hati pemikiran barat yang mengkarat di otak
PERHATIAN..!!!
Maaf Apabila Terjadi Kesalahan dan Kekasaran Kata
Kami Bukan Orang-Orang Suci Tetapi Kami Orang-Orang yang Belajar Menyucikan Diri
Kirimkan kritik dan saran kawan-kawan ke 08569905545
Atau sekretariat KIFS PKM FIS
Posted in hijrah otak | 0 komentar »
Tak perlu judul
6:54:00 AM di 6:54:00 AMManusia masih dikatakan manusia kalau masih terdapat dua unsur yaitu jasad dan ruh. Kalu salah satunya hilang maka kalau ga’ jadi mayit ya jadi ruh. Dan satu hal lagi yang kudu kite catet. Bahwa yang akan meneruskan perjalanan nanti itu ruhnya, bukan jasad.
Islam itu ibarat manusia (sebenarnya memang fitrah manusia itu Islam). Iman itu ruhnya dan Ibadah itu jasadnya. Belum dikatakan islam kalau tidak punya ruh atau jasad. Akan percuma jasad kalau tanpa ruh, dan ruh saja tidak akan bisa apa-apa. Percuma kalau ibadah tanpa iman, dan amat disayangkan beriman tapi tidak beribadah. Yang membedakan kita dengan yang lain bahwa kita beribadah dengan iman, percuma kalau berbuat baik setiap hari, sholat terus maksiat jalan mungkin akibat ibadah yang tanpa ruh. Begitupun ketika beriman tapi ga’ beribadah, kalau kita ga punya jasad maka ruhnya ga’ bisa terbukti. Islam adalah cara pandang, cara gerak dan aplikasi tindakan. Islam bukan hanya wacana atau bahan diskusi yang tersembunyi di puncak menara gading intelektual. Islam adalah perbuatan nyata dengan ruh menjiwa. Jasad dan ruh harus bergandengan, dan nanti bila waktunya ruh yang akan melanjutkan perjalanan.
Misalkan Haji. Ruhnya haji itu persamaan manusia dihadapan Allah, persaudaraan universal tanpa nasionalisme, egaliter manusia dihadapan Allah. Kalau Ka’bah sarang lebah dan manusia dari seluruh penjuru mata angin jadi lebah-lebahnya. Cara membuktikan haji yaitu dengan pulang membawa madu-madu kehidupan. Maksudnya cara berfikir, tindakan dan tutur kata ibarat madu manis yang penuh manfaat. Kalau tidak dapat disinyalir yang haji baru jasadnya. Seorang haji selayaknya memperjuangkan nilai-nilai persaudaraan universal, demokrasi egaliter, persatuan umat, keadilan, pendidikan murah dan merata, kesejahteraan. Pokoknya yang manis-manislah.
Itu haji, puncak manifestasi dari kemampuan ber Islam. Sebenarnya sebelumnya atau intinya sudah diajarkan mulai dari makna syahadat. Meminjam kata-kata Sayyid Qutb, “Jadilah seorang islam” Ini saja telah cukup mendorongmu berjuang melawan segala bentuk ketidakadilan social dengan satu perjuangan yang dilakukan terus terang, penuh semangat, penuh dorongan. Jika kamu tidak melakukan hal ini, maka cobalah periksa hatimu. Mungkin hati telah tertipu tentang hakikat keimanan. Kalau tidajk mengapa kamu menjadi demikian teganya untuk tidak berjuang melawan pencaplokkan hak.
Jangan jadi syetan berwujud manusia saudaraku. Syetan dapat membaca Al-quran dan tahu benar eksistensi Allah, tapi mereka tak punya ruh atau iman. Maka durhakalah dan terlaknatlah. Mari bersama-sama terus belajar memahami Islam ini. Akupun sedang menguatkan jasad dan ruh ini ditengah hidup yang penuh kepalsuan. Wallahu a’lam bish shawab.
Saeful Agus Rahmat
Kadept. Humas Media KIFS
Ngaji, Diskusi, dan Lawan…….!!!
Posted in hijrah otak | 2 komentar »
